Search

Tampilkan postingan dengan label nggoliar tabuni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nggoliar tabuni. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 April 2010

OPM Rekrut Ratusan Warga Papua

VIVAnews - Dalam setahun terakhir, kelompok separatis Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) di bawah pimpinan Goliat Tabuni, yang bermarkas di Tingginambut Puncak Jaya Papua, diduga merekrut ratusan warga menjadi anggota.

Warga kemudian dilatih menggunakan senjata dan berperang gerilya. Hal itu diungkapkan Ketua DPRD Kabupaten Puncak Jaya Nesko Wenda kepada VIVAnews di Jayapura, Rabu 28 April 2010.

“Dari informasi yang kami peroleh, ada sekitar 400 warga dari berbagai Distrik di Puncak Jaya berhasil direkrut menjadi anggota OPM pimpinan Goliat Tabuni. Selanjutnya mereka dididik di markas OPM di Tingginambut,’’ ujarnya.

Warga direkrut dalam kondisi terpaksa, pasalnya, jika tidak mengindahkan keinginan kelompok OPM yang terkenal sadis itu, harta bahkan nyawa mereka bisa melayang.

“Sebagian warga dalam kondisi dilema dan tertekan. Bila tidak menuruti OPM, mereka terancam, baik harta berupa hasil kebun dan ternak maupun nyawa,’’ungkapnya.

Lebih lanjut diutarakannya, warga yang direkrut kemudian dilatih cara berperang gerilya, serta menggunakan senjata api hasil rampasan dari
TNI/Polri.

“Sistem gerilya inilah yang menyulitkan aparat dalam menumpas kelompok separatis, sebab sulit membedakan masyarakat biasa dan OPM,’’ tukasnya.

Sebenarnys, kata Nesko, jika aparat keamanan baik itu TNI maupun Polri bersatu melakukan pengejaran terhadap kelompok separatis, warga masyarakat sudah barang tentu memiliki keberanian
untuk membatu aparat keamanan.

“Warga belum memiliki keberanian untuk ikut mengejar kelompok separatis karena, aparat keamanan terkesan belum juga serius melakukan pengejaran,’’ tukas mantan Ketua KPUD Puncak Jaya itu.

Nesko sangat berharap, aparat keamanan yang ada di Puncak Jaya bersatu dan memiliki komitmen yang sama untuk mengejar dan menangkap kelompok OPM.

Bila tidak, mereka akan terus melancarkan aksi yang meresahkan warga dan merongrong kedaulatan NKRI. “Jangan sampai OPM terus menerus memaksa warga untuk bergabung dalam kelompoknya. Aparat harus segera bertindak menumpas mereka,’’ tandasnya.

Menurut Nesko, OPM pimpinan Goliat Tabuni terdiri tiga faksi, yakni faksi Yarius Telenggen, Mbonait Telenggen dan Leka Telenggen. Mereka menggunakan puluhan senjata api jenis AK buatam China, M16 dan SS1. (umi)

Laporan: Banjir Ambarita| Papua • VIVAnews
Rabu, 28 April 2010, 17:52 WIB
Elin Yunita Kristanti

OPM Rekrut Ratusan Warga Papua

VIVAnews - Dalam setahun terakhir, kelompok separatis Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) di bawah pimpinan Goliat Tabuni, yang bermarkas di Tingginambut Puncak Jaya Papua, diduga merekrut ratusan warga menjadi anggota.

Warga kemudian dilatih menggunakan senjata dan berperang gerilya. Hal itu diungkapkan Ketua DPRD Kabupaten Puncak Jaya Nesko Wenda kepada VIVAnews di Jayapura, Rabu 28 April 2010.

�Dari informasi yang kami peroleh, ada sekitar 400 warga dari berbagai Distrik di Puncak Jaya berhasil direkrut menjadi anggota OPM pimpinan Goliat Tabuni. Selanjutnya mereka dididik di markas OPM di Tingginambut,�� ujarnya.

Warga direkrut dalam kondisi terpaksa, pasalnya, jika tidak mengindahkan keinginan kelompok OPM yang terkenal sadis itu, harta bahkan nyawa mereka bisa melayang.

�Sebagian warga dalam kondisi dilema dan tertekan. Bila tidak menuruti OPM, mereka terancam, baik harta berupa hasil kebun dan ternak maupun nyawa,��ungkapnya.

Lebih lanjut diutarakannya, warga yang direkrut kemudian dilatih cara berperang gerilya, serta menggunakan senjata api hasil rampasan dari
TNI/Polri.

�Sistem gerilya inilah yang menyulitkan aparat dalam menumpas kelompok separatis, sebab sulit membedakan masyarakat biasa dan OPM,�� tukasnya.

Sebenarnys, kata Nesko, jika aparat keamanan baik itu TNI maupun Polri bersatu melakukan pengejaran terhadap kelompok separatis, warga masyarakat sudah barang tentu memiliki keberanian
untuk membatu aparat keamanan.

�Warga belum memiliki keberanian untuk ikut mengejar kelompok separatis karena, aparat keamanan terkesan belum juga serius melakukan pengejaran,�� tukas mantan Ketua KPUD Puncak Jaya itu.

Nesko sangat berharap, aparat keamanan yang ada di Puncak Jaya bersatu dan memiliki komitmen yang sama untuk mengejar dan menangkap kelompok OPM.

Bila tidak, mereka akan terus melancarkan aksi yang meresahkan warga dan merongrong kedaulatan NKRI. �Jangan sampai OPM terus menerus memaksa warga untuk bergabung dalam kelompoknya. Aparat harus segera bertindak menumpas mereka,�� tandasnya.

Menurut Nesko, OPM pimpinan Goliat Tabuni terdiri tiga faksi, yakni faksi Yarius Telenggen, Mbonait Telenggen dan Leka Telenggen. Mereka menggunakan puluhan senjata api jenis AK buatam China, M16 dan SS1. (umi)

Laporan: Banjir Ambarita| Papua � VIVAnews
Rabu, 28 April 2010, 17:52 WIB
Elin Yunita Kristanti

Jumat, 26 Maret 2010

Soal Penembakan di Mulia Diserahkan Ke Pihak Berwajib

JAYAPURA [PAPOS]- Terjadinya aksi penembakan yang kembali terjadi di Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Senin [22/3] lalu menurut Wakil Gubernur Papua, Alex Hesegem, SE sepenuhnya diserahkan pemerintah daerah kepada pihak berwajib untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Menurut Wagub, insiden yang terjadi terus menerus di daerah Kabupaten Puncak Jaya belakangan ini maupun daerah lainnya, hingga kini jajaran aparat keamanan masih terus melakukan pengejaran kepada pelaku penembakan.

�Pemerintah provinsi sudah menyerahkan tugas ini kepada pihak berwajib dalam hal ini Kepolisian Polda Papua, dengan harapan masalah ini bisa diselesaikan dengan baik untuk mengungkap dan menangkap para pelaku kejahatan,� ujar Wagub Alex kepada wartawan usai menghadiri penyampaian SPT tahunan PPH orang pribadi tahun pajak 2009, di Kanwil Direktorat Jendral Pajak Papua dan Maluku, Jumat [26/3] kemarin.

Wagub menegaskan, meskipun dilihat dari segi topografi di Papua khususnya di wilayah Kabupaten Puncak Jaya cukup sulit. Hal ini menjadi penghambat bagi Kepolisian untuk menumpas para pelaku kejahatan. Sementara kelompok bersenjata begitu menguasai medan setempat. Namun demikian Wagub optimis aparat Kepolisian dapat menyelesaikan kasus-kasus penembakan di Papua.

Ketika disinggung apa perlu dilakukan penambahan pasukan, khusus daerah tertentu yang dianggap rawan penembakkan. Menurut Wagub pasukan tidak perlu ditambah, jika memang ada rencana penambahan pasukan, maka baik TNI maupun Polri harus berkoordinasi terlebih dahulu dengan pemerintah daerah setempat. "Tidak perlu ada penambahan pasukan dengan kejadian itu, karena sepenuhnya sudah ditangani Kepolisian setempat," tegas Wagub.

Oleh sebab itu, sebagai pemerintah dan anak koteka, dirinya menghimbau kepada oknum-oknum masyarakat yang terus melakukan aksi kriminalitas di wilayah pemerintah Kabupaten Puncak Jaya, bukan saatnya lagi untuk melakukan aksi-aksi seperti itu, tapi pulang ke kampung dan bersama-sama masyarakat lainnya membangun kampungnya.

Wagub menambahkan, secara umum Papua sangat kondusif hanya di Kabupaten Mimika, Puncak Jaya saja yang sering terjadi aksi penembahkan. Oleh karena itu, penambahan pasukan ke Papua belum begitu mendesak. �Kalau memang ke Mimika dan Puncak Jaya Polri dan TNI perlu ditambah, itu silakan saja, tetapi kita perlu duduk bicara baik-baik, jangan sampai pasukan dikirim bukan menyelesaikan persoalan, tapi malah membuat suasana menjadi tidak kondusif. Jadi kita perlu bicara daerah mana yang perlu dilakukan penambahan pasukan,� tandasnya.[anyong]

Ditulis oleh Anyong/Papos   
Sabtu, 27 Maret 2010 00:00



Selasa, 23 Maret 2010

TNI dan OPM Kontak Senjata

Jayapura [PAPOS] - Tembak menembak antara OPM dengan aparat keamanan TNI dari Yonif 753 Nabire terjadi di sekitar "Puncak Senyum" Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Selasa dini hari. Baku tembak itu berawal ketika mobil aparat keamanan dari Yon 753 Nabire, Senin petang sekitar pukul 18.30 WIT, dicegat OPM saat hendak kembali ke pos mereka di Puncak Senyum.

Aparat keamanan yang berjumlah 13 orang dipimpin Lettu Inf. Syahputra ketika berkendaraan dari Mulia menuju pos mereka di Puncak Senyum yang berjarak sekitar 700 meter dihadang kelompok OPM, sehingga terjadi baku tembak.

Akibat baku tembak itu dikabarkan salah seorang anggota TNI dari Yon 753 mengalami luka ringan di pinggang terkena serpihan peluru.

Kepala Penerangan Kodam XVII/Cendrawasih Letkol Inf. Susilo saat di konfirmasi Papua Pos, Selasa (23/3), membenarkan adanya penembakan terhadap anggota TNI yang diduga dilakukan kelompok OPM/TPN. Sehingga anggota membalas tembakan tersebut, hingga mereka melarikan diri kedalam hutan.

� Ya laporan yang kami terima bahwa ada anggota TNI dari Yonif 753 yang bertugas di Mulia tertembak dibagian pinggang belakang hingga mengalami luka ringan, Namun sampai saat ini situasi kondusif,� ujar Kapendam.

Tentang kronologis kejadian penembakan itu, Kapendam menjelaskan kejadian itu berawal ketika anggota TNI sedang melakukan Patroli di Puncak Senyum dengan menggunakan mobil sekitar 700 meter dari pos, namun sekitar pukul 18.30 Wit tiba-tiba kelompok orang tak dikenal yang diduga kelompok OPM melakukan penghadangan terhadap anggota dengan menembaki kea rah mobil hingga serpihan peluru mengenai korban dibagian pinggang.

Lalu anggota langsung membalas tembakan, sehigga terjadi baku tembak, mengakibatkan para pelaku menghilang melarikan diri ke arah hutan sehingga tidak sempat dilakukan pengejaran.

� Sejauh ini sesuai dengan laporan yang kami terima, anggota tidak melakukan pengejaran terhadap gerombolam OPM tersebut karena saat itu mereka langsung menghilang,� ujar Kapendam

Menyangkut dengan anggota yang terluka, Kampendam, Letkol Susilo mengatakan, setelah dilakukan pembalasan penembakan lalu geromboolan OPM lari ke hutan, korban langsung dibawa ke Pos terdekat untuk mendapat pengobatan selanjutnya korban sudah bisa melakukan aktifitasnya seperti biasanya.

Untuk mengantisipasi para pengacau keamanan tersebut, kata Kapndam, Anggota saat ini muali melakukan pengisian di Pos masing-masing untuk menjaga situasi yang tidak diinginkan, walau situasi kondusif namun anggota selalu waspada.

Sementara itu, Kapolres Puncak Jaya AKBP Alek Korwa ketika dihubungi Papua Pos tadi malam mengatakan, kejadian penembakan terhadap anggota TNI itu, membenarkan adanya penembakan terhadap Anggota TNI dari Yonif 753 Nabire tersebut.

Korban ditembak saat mereka melakukan patroli dari arah Pos Puncak Senyum Kabupaten Puncak Jaya dengan menggunakan mobil dengan berpenumpang sebanyak 4 orang anggota, namun pada pertengahan jalan, mereka dicegat dengan tembakan dari arah kanan-kiri jalan yang mengenai atas mobil anggota TNI tersebut.

� Tidak ada korban di lingkungan warga sipil dan diduga anggota OPM itu sudah lari ke gunung-gunung di sekitar kota Mulia,� katanya.

Ketika ditanya tentang isue anggota OPM sudah berada di kota Mulia, AKBP Korwa mengakui, sudah mendengar isue tersebut namun hingga kini tidak dapat dibuktikan.

" Bisa saja mereka membaur dengan warga namun karena tidak melakukan aktifitas yang mengganggu warga maka keberadaannya tidak dapat dipastikan," kata AKBP Korwa.

Kapolres mengungkapakan, sampai saat ini nama korban belum diketahui karena saat itu sedang mendampingi Kapolda Papua ke Tinggi Nambut sehingga nama korban tidak diketahui lebih jelas,� ujar Kapolres. [loy]

Ditulis oleh Loy/Papos
Rabu, 24 Maret 2010 00:00
----------------------
Situasi Kwamki Lama Kembali Panas

Timika [PAPOS] - Situasi di Kwamki Lama, Timika, kembali rawan menyusul ketegangan antara dua kelompok warga di wilayah itu sejak akhir pekan lalu.

Kapolsek Mimika Baru, AKP Lang Gia kepada wartawan di Timika, Selasa mengatakan polisi sudah mempertemukan tokoh-tokoh masyarakat dari dua kelompok untuk menghindari terulangnya kembali bentrokan antarwarga.

"Kemarin kami pertemukan para tokoh masyarakat dari dua kelompok. Intinya, semua pihak tidak menghendaki terjadi kembali konflik antarwarga karena peristiwa sebelumnya sudah dinyatakan selesai," kata Lang Gia.

Ia mengatakan, para tokoh masyarakat yang diundang ke Polsek Mimika Baru dalam pertemuan, Senin (22/3) berjumlah sekitar 15 orang. Namun beberapa warga yang hadir dalam pertemuan itu menyatakan pesimistis Kwamki Lama bisa aman, karena masih ada sejumlah korban pertikaian pada Sabtu (20/3) yang dalam kondisi kritis di Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM).

"Kalau korban yang dirawat di RSMM selamat maka kita akan damai. Tapi kalau sampai meninggal maka kami akan buat perhitungan untuk balas," ancam Isak Murib, salah satu tokoh dari kelompok bawah.

Pada Sabtu (20/3) , dua kelompok warga di Kwamki Lama yang sebelumnya terlibat konflik kembali terlibat aksi saling serang dengan panah, parang dan senjata tajam lainnya.

Aksi saling serang itu dipicu oleh ulah salah seorang warga kelompok atas yang dalam keadaan mabuk melepas anak panah ke kerumunan warga kelompok bawah, lalu dibalas oleh warga kelompok bawah.

Dalam peristiwa itu, empat warga terluka setelah tertembus anak panah. Salah seorang diantaranya, Eltinus Wandikbo (16), warga kelompok bawah yang masih duduk di bangku SMP mengalami luka parah pada perut dan kakinya.

Pertikaian antardua kelompok warga yang masih bersaudara itu pecah sejak awal Januari lalu dan telah menewaskan tiga orang warga. [ant/agi]

Ditulis oleh Ant/Agi/Papos
Rabu, 24 Maret 2010 00:00

Cari Blog Ini

Ads Banner

 

Resources

Site Info

My Blog List

About this blog

Followers

Papua Posts Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template